PENELITIAN terbaru menunjukkan, bayi di bawah tiga tahun (batita) yang tidur bareng orangtuanya tidak mengakibatkan dampak negatif bagi perkembangan perilaku dan pembelajarannya.
Tidur bersama anak sejak si buah hati masih bayi adalah kebiasaan sebagian besar keluarga Indonesia. Tradisi tidur bareng ini agak berbeda dengan rumah tangga di negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang umumnya memisahkan ruang tidur anak sejak bayi.
Tentu, tidak ada yang salah dengan tidur bersama-sama karena unsur kehangatan keluarga menjadi sangat terasa. Larangan untuk berada satu tempat tidur dengan bayi pernah dikeluarkan oleh Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat (The US Consumer Product Safety Commission/ CPSC) pada 1999.
Menurut CPSC, sejak Januari 1990 hingga Desember 1997 di Amerika saja terjadi 515 kematian anak bayi dan batita yang tidur bersama orangtua. Lebih dari 75 persen angka tersebut adalah bayi di bawah tiga bulan.
Namun, penelitian terbaru menyebutkan, berbagi tempat tidur dengan anak tidak akan menyebabkan efek negatif bagi pertumbuhan anak kelak saat dewasa. Sampai saat ini, tidak ada konsensus yang pasti di antara pakar anak tentang permasalahan ini. Sekitar sepertiga buku tentang pengasuhan bayi mendukung tindakan ini, sepertiga menolaknya dan sisanya tidak menyatakan sikap.
“Studi yang melihat dampak dari anak yang tidur dengan orangtua masih sedikit, tetapi masalah ini menjadi buah bibir. Saya sering ditanya tentang ini oleh orangtua dan praktisi kesehatan,” kata Helen Ball, seorang peneliti di Durham University, Inggris yang terlibat dalam studi terbaru ini.
“Penelitian ini dapat membongkar mitos bahwa berbagi tempat tidur terkait dengan perkembangan negatif anak,” lanjutnya seperti dikutip Live Science.
Studi terbaru ini diikuti 944 pasangan orangtua dan anak dari keluarga berpenghasilan rendah, dimulai ketika balita mereka berusia satu tahun. Para partisipan berasal dari peserta penelitian Early Head Start Research and Evaluation Study, dan mereka ditanya tentang pengaturan tidur anaknya saat sang buah hati berusia 1, 2, dan 3 tahun.
Para peneliti lalu menentukan hasilnya terkait perilaku, keterampilan sosial dan kognitif anak pada usia lima tahun, serta gaya pengasuhan ibu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang beberapa dampak negatif berhubungan dengan berbagi tempat tidur, termasuk penurunan keterampilan sosial dan kognitif anak.
Meskipun keterkaitan ini langsung memudar ketika faktor-faktor lain, termasuk status sosial ekonomi, pendidikan ibu, gaya pengasuhan, dan etnis, dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, tidur bersama anak dapat dikesampingkan sebagai penyebab masalah perkembangan seorang anak yang tengah diamati dalam penelitian ini.
“Setelah penyesuaian statistik untuk karakteristik sosial dan demografis, tidak ada perbedaan perilaku atau keterampilan kognitif pada usia lima tahun antara anak yang berbagi tidur dengan orangtua selama tahun-tahun pada masa balita dan mereka yang tidak,” ujar peneliti studi Lauren Hale, dari Stony Brook University, Amerika Serikat.
“Karena kami tidak menemukan perbedaan yang mendasar, studi ini menunjukkan bahwa pola berbagi tempat tidur tidak memberikan kontribusi terhadap lintasan perkembangan anak yang berbeda,” lanjutnya.
Dr Fern Hauck dari American Association of Pediatrics mengatakan, pihaknya telah merekomendasikan orangtua untuk tidak tidur bareng dengan anak selama masa bayi. Hal itu didasarkan pada sejumlah penelitian lain yang telah menunjukkan bahwa kegiatan itu dapat meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant deathsyndrome/ SIDS) dalam kondisi tertentu, seperti pernah terjadi pada 2008, di mana sekitar 2.300 anak tewas akibat sindrom tersebut.
“Dikhawatirkan anak-anak bisa mati lemas karena mengalami SIDS. APP merekomendasikan salah satu tempat untuk berbagi,” ujar Hauck.
Selasa, 16 Agustus 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar